NUSA TENGGARA BARAT — Kim Kardashian menawarkan Kanye West dan Bianca Censori menginap di rumahnya saat malam Natal. Lewat buku biografi Citizen Kim, Kim mengaku sengaja menyingkirkan ego demi keempat anaknya. Tawaran itu jadi contoh nyata co-parenting setelah perceraian.
Kim Kardashian kembali membuka pintu rumahnya untuk Kanye West, meski status mereka kini mantan suami-istri. Ia bahkan mempersilakan Bianca Censori, istri baru Kanye, ikut menginap pada malam Natal. Langkah Kim itu bukan tanpa alasan: keempat anaknya butuh waktu bersama sang ayah.
Pengakuan Kim tertuang dalam buku biografi Citizen Kim: The Woman Who Created the Future karya Jonathan Van Meter. Ia menuturkan sudah menawarkan hal serupa pada Natal tahun sebelumnya dan berencana mengulanginya.
Isi Tawaran Kim Kardashian ke Kanye West
Kim tidak sekadar mengundang Kanye datang siang hari lalu pulang malam. Ia meminta mantan suaminya menginap agar anak-anak bisa menikmati waktu lebih panjang bersama ayahnya.
“Pada Natal tahun lalu, saya berkata, 'Menginaplah pada malam Natal. Ajak pacarmu. Saya santai saja! Mari kita rayakan Natal bersama',” ujar Kim, seperti dikutip dari BANG Premier.
Alasan Kim Mendahulukan Kepentingan Anak
Keputusan Kim berangkat dari satu prinsip sederhana: perceraian orang tua tidak boleh memutus hubungan anak dengan ayahnya. North, Saint, Chicago, dan Psalm tetap berhak merasakan suasana Natal lengkap bersama kedua orang tua.
Kim juga tidak mempermasalahkan kehadiran Bianca. Baginya, kehadiran istri baru Kanye bukan ancaman, melainkan bagian dari kenyataan keluarga yang harus diterima anak-anak dengan wajar.
Pelajaran Co-Parenting dari Keluarga Kardashian
Pola yang dipilih Kim mirip dengan konsep co-parenting yang makin banyak diterapkan orang tua Indonesia setelah bercerai. Intinya, keputusan soal anak diambil berdasarkan kebutuhan anak, bukan sisa rasa sakit hati orang dewasa.
Ada beberapa hal yang bisa ditiru dari pendekatan Kim:
- Mengundang mantan pasangan ke momen penting anak, seperti Natal, ulang tahun, atau acara sekolah.
- Menerima kehadiran pasangan baru mantan suami/istri tanpa drama di depan anak.
- Menjaga komunikasi tetap ringan dan fokus pada jadwal serta kebutuhan anak.
- Tidak menjadikan anak sebagai penyampai pesan atau penengah konflik.
Yang Perlu Diperhatikan Ibu Saat Co-Parenting
Co-parenting tidak selalu mulus, apalagi jika hubungan pascaperceraian sempat panas. Psikolog keluarga biasanya menyarankan agar kedua orang tua menyepakati aturan dasar lebih dulu: soal jam kunjungan, siapa yang mengantar sekolah, dan bagaimana menghadapi hari besar.
Anak juga perlu diberi penjelasan sesuai usia. Untuk anak balita, cukup jelaskan bahwa ayah dan ibu tinggal terpisah tapi sama-sama menyayangi mereka. Anak usia sekolah bisa diajak bicara lebih terbuka soal jadwal dan rencana liburan.
Kapan Perlu Bantuan Profesional
Jika anak menunjukkan tanda stres seperti murung, sulit tidur, atau menolak bertemu salah satu orang tua, jangan dipaksa. Konsultasikan ke psikolog anak untuk mencari pola yang lebih nyaman bagi si kecil.
Hal serupa berlaku bagi ibu yang merasa emosinya masih mentah setiap kali bertemu mantan pasangan. Terapi atau sesi konseling bisa membantu memisahkan urusan pribadi dari kebutuhan anak.
Langkah Kim Kardashian menunjukkan bahwa perceraian bukan akhir dari kebersamaan sebagai orang tua. Selama kepentingan anak ditaruh di depan, momen seperti Natal tetap bisa terasa utuh untuk si kecil.