Pencarian

Ekonomi RI Tumbuh 5,61% di Kuartal I 2026, Pemerintah Siapkan Stimulus Rp26,34 Triliun

Minggu, 12 Juli 2026 • 12:00:01 WIB
Ekonomi RI Tumbuh 5,61% di Kuartal I 2026, Pemerintah Siapkan Stimulus Rp26,34 Triliun
Pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal I 2026 mencapai 5,61 persen.

NUSA TENGGARA BARAT — Pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal I 2026 mencapai 5,61%, di atas ekspektasi sejumlah lembaga global dan rata-rata pertumbuhan negara ASEAN. Angka ini dirilis di tengah perlambatan ekonomi dunia yang masih membayangi banyak negara berkembang.

Menko Perekonomian Airlangga Hartarto menyebut sejumlah faktor penopang: inflasi terkendali, permintaan domestik kuat, surplus neraca perdagangan, manufaktur yang masih ekspansif, serta cadangan devisa yang terjaga. "Perekonomian Indonesia sudah dalam track yang positif," ujarnya dalam keterangan resmi.

Stimulus Rp26,34 Triliun untuk Semester II

Untuk menjaga momentum, pemerintah meluncurkan paket stimulus ekonomi senilai Rp26,34 triliun pada semester II-2026. Airlangga menjelaskan, stimulus diarahkan untuk menjaga daya beli masyarakat dan mendorong aktivitas ekonomi.

Alokasi dana mencakup bantuan pangan, dukungan stabilisasi harga dan pasokan pangan bagi pelaku usaha tahu-tempe, diskon transportasi, serta insentif konsumsi selama libur sekolah hingga Natal dan Tahun Baru. Pemerintah juga memperkuat kualitas SDM melalui program magang nasional, vokasi, dan reskilling bagi sekitar 220 ribu lulusan SMK.

Menkeu: Mesin Pertumbuhan Baru Baru Dipanaskan

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa optimistis target pertumbuhan 8% dapat dicapai secara bertahap. "Ketika global gonjang-ganjing saja kita masih bisa tumbuh 5,61 persen, ini kan mesin pertumbuhan ekonomi baru dipanaskan," ujarnya.

Purbaya menambahkan, penguatan ekspor, investasi, dan produktivitas nasional menjadi kunci. Pemerintah juga memperkuat pembiayaan ekspor melalui Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) dengan suku bunga kompetitif. "Melalui LPEI, kita menawarkan suku bunga maksimal 6 persen per tahun. Bahkan 4 persen jika diperlukan demi pertumbuhan," jelasnya.

INDEF: Lima Sektor Potensial Jadi Motor Baru

Direktur Eksekutif INDEF Esther Sri Astuti menilai Indonesia memiliki sejumlah sektor potensial yang bisa menjadi mesin pertumbuhan baru. "Industri pengolahan melalui manufaktur dan hilirisasi, ekonomi hijau dan biru, ekonomi digital, serta sektor pariwisata dan ekonomi kreatif," kata Esther.

Menurutnya, konsistensi pengembangan sektor-sektor ini akan menentukan daya tahan ekonomi ke depan. Ia menekankan pentingnya kebijakan yang mendukung investasi di sektor riil dan teknologi.

OJK: Stabilitas Sektor Keuangan Terjaga

Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi menilai bauran kebijakan fiskal dan moneter mampu menjaga stabilitas ekonomi meskipun ketidakpastian global masih tinggi. "Di domestik, indikator ekonomi termoderasi di tengah mulai meningkatnya tekanan inflasi. Namun stabilitas tetap terjaga," ujarnya.

Airlangga menambahkan, kondisi global justru membuka peluang bagi dunia usaha untuk mempercepat ekspansi. "Dalam situasi seperti ini biasanya capital goods menjadi sangat kompetitif atau relatif murah. Kesempatan seperti ini tidak datang dua kali. Jadi bagi perusahaan yang ingin melakukan ekspansi, ini waktu yang sangat tepat," katanya.

Bagikan
Sumber: suaradewata.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks