Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) melalui Dinas Kebudayaan mulai menginventarisasi artefak dan unsur budaya yang terdampak kebakaran di Kampung Adat Sade, Lombok Tengah, sebagai langkah awal penyelamatan warisan budaya pascabencana. Kepala Dinas Kebudayaan NTB, Muhamad Ihwan, menegaskan bahwa penyelamatan bukan hanya pada benda fisik, tetapi juga dokumentasi pengetahuan dan cerita warga setempat. Langkah ini menjadi krusial mengingat kawasan tersebut dikenal hingga mancanegara sebagai destinasi wisata budaya.
LOMBOK TENGAH — Dinas Kebudayaan NTB bergerak cepat melakukan inventarisasi artefak dan unsur budaya yang selamat dari amukan api di Kampung Adat Sade. Proses ini menjadi fondasi awal untuk memetakan kerusakan sekaligus menyusun rencana rekonstruksi kawasan yang sempat menjadi ikon pariwisata Lombok itu.
Menurut Muhamad Ihwan, timnya saat ini fokus mengidentifikasi benda-benda budaya yang masih tersisa, terutama koleksi peralatan tenun yang menjadi identitas utama dusun adat tersebut. "Bagian terpenting adalah menyelamatkan artefak-artefak kebudayaan, termasuk cerita-cerita warga setempat," ujarnya saat meninjau lokasi kebakaran pada Minggu.
Dokumentasi dan Replika Jadi Kunci Pemulihan
Ihwan menjelaskan bahwa pendokumentasian menyeluruh menjadi prioritas agar warisan budaya tidak hilang selamanya. Ia mencontohkan, untuk peralatan tenun yang terbakar, pembuatan replika menjadi solusi jangka panjang agar aktivitas menenun bisa kembali berjalan.
"Dusun ini terkenal dengan tenun, maka barang-barang yang berkaitan dengan tenun perlu dilakukan dokumentasi. Kemudian ditiru (buat replika) supaya kalau ada kebakaran seperti ini warga masih memiliki alat lain," kata Ihwan.
Mengapa Kampung Adat Sade Rentan Terhadap Bencana?
Insiden di Sade merupakan kebakaran kampung adat kedua dalam beberapa bulan terakhir di NTB. Sebelumnya, Kampung Adat Bayan juga mengalami musibah serupa. Kondisi ini mendorong pemerintah untuk mengevaluasi sistem kesiapsiagaan di seluruh desa adat yang tersebar di provinsi tersebut.
Pemerintah menilai seluruh kampung adat di NTB perlu dilengkapi sistem pemadam kebakaran atau early warning system. Selain infrastruktur, aparatur desa juga harus mendapatkan pelatihan khusus terkait mitigasi bencana agar respons terhadap kejadian serupa bisa lebih cepat dan efektif.
Rekonstruksi Melibatkan Tetua Adat dan Pemerintah Daerah
Setelah proses inventarisasi rampung, Dinas Kebudayaan NTB akan menyusun langkah rekonstruksi dan penataan ulang kawasan. Rencana ini akan melibatkan Balai Pelestarian Kebudayaan, Pemerintah Kabupaten Lombok Tengah, serta para tetua adat setempat sebagai pemegang otoritas tertinggi di kampung adat.
"Kami mengajak masyarakat sebagai pemilik kebudayaan untuk berpikir bersama bagaimana langkah supaya Kampung Adat Sade tidak hilang mengingat kawasan ini terkenal secara internasional," tegas Ihwan.
Pengalaman kebakaran beruntun ini menjadi momentum bagi pemerintah untuk memperkuat perlindungan aset budaya yang selama ini rentan terhadap bencana. Ke depan, setiap desa adat didorong memiliki sistem mitigasi mandiri agar warisan leluhur tetap lestari di tengah ancaman alam.