MATARAM — Sekretaris Badan Keuangan dan Aset Daerah (BKAD) NTB Muhammad Baihaki menyatakan permohonan lelang telah diajukan kembali ke Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang (KPKNL) Mataram. Jadwal lelang baru ditetapkan 11 November, setelah penawaran sebelumnya tidak menemukan pembeli.
Penyesuaian nilai limit dilakukan mengacu pada hasil penilaian tim Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang, Perumahan dan Kawasan Permukiman (PUPRPKP) NTB. Baihaki menyebut angka barunya berada di bawah nilai limit sebelumnya, namun ia tidak merinci nominal pastinya.
Yang Dilelang Bukan Bangunan Utuh, Hanya Material Bernilai Ekonomi
Objek lelang merupakan material bongkaran rumah dinas, bukan bangunan secara utuh. Pemenang lelang nantinya bertanggung jawab membongkar dan mengangkut material yang masih memiliki nilai jual.
"Bongkarannya yang nilainya, bukan rumahnya. Nanti dari bongkaran, hanya yang punya nilai ekonomi itu yang dijual," kata Baihaki, Kamis (29/10).
Biaya pembongkaran menjadi salah satu pertimbangan dalam penetapan nilai limit. Pasalnya, pemenang lelang harus menanggung ongkos bongkar, termasuk kebutuhan alat berat.
Nilai Limit Jadi Batas Minimal Penawaran
Ketentuan nilai limit tetap berlaku pada lelang kali ini. Angka tersebut menjadi batas minimal penawaran, sehingga peserta tidak boleh mengajukan harga di bawahnya.
"Peserta yang berminat dapat mengajukan harga, dengan penawaran tertinggi mengikuti ketentuan yang berlaku dalam proses lelang," ujar Baihaki.
Dari sisi KPKNL Mataram, Kepala Seksi Hukum dan Informasi Fatih Ghozali menegaskan status objek sebagai bangunan hasil bongkaran tidak otomatis membuat lelang sepi peminat. Menurutnya, material bongkaran tetap punya pasar tersendiri bagi pembeli yang melihat nilai ekonomisnya.
Lelang ulang 11 November menjadi kesempatan kedua bagi Pemprov NTB menjual material rumah dinas DPRD setelah penawaran Rp 147,7 juta tak berbuah pembeli. Masyarakat yang berminat dapat mengajukan penawaran sesuai ketentuan KPKNL, dengan penawaran tertinggi berpeluang keluar sebagai pemenang.