MATARAM — Musyawarah Provinsi PBSI NTB menetapkan Alfian Eikman sebagai ketua untuk periode kedua tanpa melalui pemungutan suara. Keputusan aklamasi itu diambil dalam forum yang digelar Jumat (30/10), dengan agenda utama menyusun arah pembinaan bulutangkis daerah lima tahun ke depan.
Alfian menempatkan pembenahan ekosistem kompetisi sebagai prioritas pertama. PBSI NTB akan menggandeng klub-klub serta pengurus kabupaten dan kota untuk menghadirkan turnamen yang mengikuti standar sistem informasi PBSI.
Kalender Turnamen Tahunan untuk Atur Ritme Kompetisi
Selama ini jadwal turnamen di NTB dinilai terlalu rapat di satu periode dan kosong di periode lain. Kondisi itu membuat atlet sulit menjaga ritme bertanding sekaligus menyulitkan klub mengatur persiapan.
PBSI NTB akan menyusun kalender turnamen tahunan sebagai solusinya. Alfian menyebut penataan jadwal jadi kunci agar kualitas kompetisi tetap terjaga sebagai tolok ukur pembinaan prestasi atlet lokal.
"Langkah ke depannya, karena ini sudah mulai padat, kita akan membuat kalender turnamen tahunan sehingga kita bisa atur ritme kompetisi agar tidak terlalu mepet, tidak juga terlalu renggang," ujarnya.
Regulasi Pra-PON 2028 Paksa Pengurus Hitung Ulang
Tantangan lain datang dari regulasi baru PON 2028. Tuan rumah kini tetap diwajibkan melewati babak kualifikasi atau Pra-PON, aturan yang mengubah peta persiapan daerah.
Ketentuan itu memaksa pengurus PBSI NTB melakukan perhitungan ulang yang mendalam. Sebelumnya, status tuan rumah bisa memberi jalur lebih longgar menuju putaran final.
Alfian memilih bicara apa adanya soal peluang medali. Menurut dia, bersaing di level atas PON masih berat bagi atlet NTB, sehingga target harus disusun sesuai peta persaingan sebenarnya.
"Kalau untuk target emas, bahkan perak pun itu NTB masih berat lah di PON ini. Target muluk-muluk paling mungkin kalaupun bisa perunggu, itu pun juga masih sangat berat," jelasnya.
Kolaborasi Klub dan Pengurus Kabupaten Kota Jadi Fondasi
Penguatan ekosistem bulutangkis daerah tidak bisa dikerjakan pengurus provinsi sendirian. Karena itu, kolaborasi dengan klub dan pengurus kabupaten/kota masuk dalam program utama kepengurusan 2026-2030.
Sinergi itu diharapkan membuat turnamen berbasis standar sistem informasi PBSI bisa berjalan konsisten di seluruh wilayah NTB. Dengan begitu, pembinaan atlet tidak lagi bergantung pada satu-dua klub besar saja.
Bagi kepengurusan baru, lima tahun ke depan adalah soal merapikan fondasi: jadwal kompetisi yang terukur, penyelenggaraan turnamen yang standar, dan persiapan PON 2028 yang dihitung dengan kepala dingin.